Showing posts with label kehamilan. Show all posts
Showing posts with label kehamilan. Show all posts

Thursday, January 28, 2016

Kehamilan Keduaku : Gigih, Beruntung dan Cantik!

Anak perempuanku ini kuberi nama Almahyra Rumaisha Putri, yang artinya Putri yang pandai dan beruntung serta membawa kedamaian. Panggilannya Aisha, yang artinya hidup, penerang, adopsi dari nama istri nabi Rasulullah, siti Aisyah Ra. Suamiku agak protes dengan nama yang kuambil ini, karena harusnya nama anak perempuan kita diawali oleh huruf M, seperti nama ayahnya. (Maaf ya sayang, hehe)

Aisha lahir Mei tahun 2012 lalu, sekarang usianya sudah hampir 3 tahun. Karena kesibukan bundanya yang luar biasa, jadi baru sekarang lah saat yang sempat dan tepat untuk menulis cerita saat ia masih di dalam kandungan.

Seperti kehamilan sebelumnya, aku baru tahu bahwa ada janin dalam perutku waktu ia berusia 7 minggu. Aku memang terlalu cuek untuk urusan siklus menstruasi yang sering tak teratur. Suatu pagi aku mual luar biasa dan memuntahkan cairan kuning dari lambungku. Tak perlu pikir dua kali, aku tahu bahwa aku pasti hamil. Gejala itu juga yg kurasakan waktu hamil aqqil dulu.

Suamiku bahagia mendengar kabar kehamilanku. Walaupun sedikit lebih cepat dari rencana, tapi ia sudah antusias karena ingin memiliki anak perempuan. (Ini ayah emang paling ge-er, padahal waktu itu blm ketauan juga jenis kelamin bayinya apa). Syukur alhamdulillah, aku masih diberi kesempatan jadi bumil perkasa pada kehamilan keduaku ini. Tanpa mual muntah yang berlebihan, aku santai sekali dan menikmati kehamilanku.

Memasuki bulan keempat, aku dan suamiku tak sabar ingin melihat jenis kelamin anak dalam perutku. Tapi, bayiku rupanya senang becanda. Saat di USG, dia malah tidur membelakangi kami dan tak mau bergerak bahkan ketika sang dokter mencoba mengubah posisinya. Okelah, tak apa, kami bersabar dulu sampai bulan depan, pikirku. Yang penting bayi kami sehat. Detak jantung dan organ2 mulai berkembang dengan normal. Alhamdulillah.

Saat sedang hamil 5 bulan, aku pun sedang mencoba peruntungan untuk mengikuti seleksi beasiswa. Hampir setiap hari aku belajar matematika dan hal-hal lainnya demi bisa lulus tes potensi akademik. Bahkan, aku sampai niat mengikuti semacam les untuk mengasah kemampuan tpa ku di bilangan lebak bulus. Bayiku tak pernah protes, ia tampaknya ikut tertantang dengan berbagai rumus yang dipelajari bundanya. Hasilnya, ketika mengikuti tes oto-bappenas, nilai tpa ku mencapai angka 701! Waw, sangat tinggi karena rentang angkanya adalah 200-800.

Alhamdulillah berkat kegigihan aku dan bayiku, serta dorongan semangat suamiku, aku berhasil mendapatkan beasiswa S2 dari JICA. Karena yang kupilih adalah beasiswa dalam negeri, aku pun memilih jurusan ilmu komunikasi universitas indonesia, supaya tidak harus berjauhan dengan suami dan anakku. Waktu itu tes gelombang 1 sudah lama digelar, aku hanya memiliki kesempatan terakhir pada tes gelombang 2. Aku hampir putus asa ketika mengetahui bahwa jatah kursi kosong untuk jurusan komunikasi pada gelombang kedua itu hanya ada dua kursi! Untunglah, lagi-lagi aku berhasil mendapatkannya. Sepertinya, bayiku ini membuatku lebih pintar dan beruntung, hehe. Semoga kamu juga tumbuh menjadi anak yang cerdas dan beruntung ya nak!

Terlepas dari nasib baik tentang beasiswa itu, aku masih belum bernasib baik untuk mengetahui jenis kelamin bayiku. Hingga usia tujuh bulan, setiap kali kami USG, ada saja ulah yang bayi kami lakukan untuk menutupi informasi yang sangat kami ingin ketahui. Hahaha. Bayiku ini senang sekali ngerjain ayah bundanya. Tapi, entah kenapa, aku sangat yakin bahwa janin yang aku kandung ini perempuan. Kenapa? Karena penampilanku jauh berbeda dengan kehamilan anak laki-lakiku dulu. Aku tampak lebih cantik, tidak berjerawat, tidak muncul bintik hitam, tidak bengkak-bengkak, dan aku tidak terlalu rakus. Bismillah, semoga firasatku itu benar, begitulah aku sering berdoa dalam hati. Suamiku juga sering ikut-ikutan menganalisa perbedaan kehamilanku yang pertama dan kedua ini, dan kesimpulan yang ia ambil sama denganku.

Akhirnya, pada bulan ketujuh, aku bisa sedikit mengintip. Kata dokter, tidak ada menaranya. Aku dan suamiku pun tersenyum lebar. Bahagia akan memiliki gadis kecil yang melengkapi kebahagiaan keluarga kecil kami. Terus terang, karena tidak mengalami masalah saat kehamilan. Boleh dibilang aku masuh sangat aktif menjalani hari-hariku di kantor. Aku bahkan masing sering diminta menjadi MC walaupun badanku saat itu sudah terlihat gendut seperi badut, haha. Aku juga masih bepergian ke luar negeri saat mengandung aisha 6 bulan, jalan-jalan bersama suami dan mertuaku ke Macau dan Hongkong.

Tanpa terasa, usia kehamilanku menuju 9 bulan. Beberapa minggu sebelum duedate, aku sudah pulang ke rumah ibuku di bandung. Aku masih ingin melahirkan di sana. Lebih nyaman rasanya. Memang nampaknya aku memang hamil kebo, sampai usia 40 belum ada tanda-tanda mules sama sekali. Waktu itu aku sempat memeriksakan diriku ke RS Al Islam. Dokter menyuruhku untuk tes detak jantung bayi karena menurutnya denyut bayiku lemah sekali. Aku juga dimarahi karena susah makan, yang menyebabkan bayiku pada saat itu hanya mencapai 2,1kg. Jika demikian, bayi yang aku lahirkan bisa prematur! Aku sedih sekali. Untunglah hasil denyut jantungnya masih cukup baik. Aku disuruh pulang dan kembali minggu depan, jika belum ada mules terpaksa induksi atau sectio. Aku sangat tidak menginginkan keduanya. Aku pun kemudian makan berbagai macam es krim, kue dan cokelat untuk mengejar berat badan bayiku.

Akhirnya aku kembali ke klinik bersalin Harapan Bunda tempat aku cek sebelumnya. Aku mengubah rencanaku untuk tetap melahirkan di klinik bersalin ini. Selain karena aku sudah cocok dengan dokternya, aku juga sudah familiar dengan prosedur melahirkan di sana. Aku dan anak pertamaku masih terus menunggu waktu kelahiran anak keduaku, sementara suamiku harus kembali ke jakarta karena banyak pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan.

Tibalah saatnya aku merasa mules. Sejak semalam, mules-mules kecil sudah mulai terasa. Tapi aku tak banyak bicara dulu pada mamaku, takut-takut itu hanya kontraksi palsu. Ternyata, paginya mules-mules itu sudah hilang. Palsu! Sudah 41 minggu, ini waktunya aku kontrol lagi dengan dokterku di klinik bersalin harapan bunda. Aku sudah hampir putus asa. 

Waktu itu jam11, aku di antar ibuku dan anak pertamaku. Dokter yang memeriksaku menanyakan apakah tidak ada mules sama sekali? Aku bilang, tadi malam ada mules tapi pagi hilang. Menurutnya, bisa saja itu sudah masuk pembukaan satu atau dua. Kemudian ia memutuskan untuk memeriksa pembukaan jalan lahir. Ternyata, menurut dokter itu, aku sudah pembukaan tiga. Anehnya, aku tidak merasakan mules sama sekali. Mungkin ada sih, tapi sangat ringan sekali. Menurut dokter, jika dibantu dibuka sedikit, ini akan langsung masuk pembukaan empat. Dan benar saja, menurutnya aku sudah masuk pembukaan empat, dan harus langsung masuk ruang bersalin.

Tapi aku merasa aku masih baik-baik saja. Jadi kuputuskan untuk kembali dulu ke rumah, membawa barang-barang dan akan kembali lagi ke rumah sakit secepatnya. Dokter pun mewanti-wanti agar tidak terlalu lama. Aku kemudian pulang, saat itu aku menakar tingkat kemulesanku. Dan menurutku masih ringan. Aku menelepon suamiku dan memberitahukan kalau aku sudah pembukaan empat, mungkin sore ini akan melahirkan. Ia pun berjanji akan langsung berangkat ke bandung saat itu juga. Kemudian aku menyuapi aqqil makan siang. Aku pun menyiapkan tas yang akan ku bawa ke rumah sakit. Kemudian aku juga masih sempat sholat dzuhur. Sebelum berangkat ke rumah sakit, aku juga masih sempat ngelonin aqqil bobo siang. Jam 13.30, aku memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, aku melihat ada sedikit flek di pakaian dalamku, dan tingkat mulesnya sudah mulai terasa, walaupun menurutku tetap belum terlalu sakit.

Aku kemudian diajak suster untuk masuk ruangan bersalin. Ketika suster memeriksaku, aku sudah memasuki pembukaan enam. Suster itu meyuruhku tiduran saja. Gak boleh jalan-jalan ya sus? Jangan ya, nanti takut pecah ketuban. Kemudian aku menuruti saran mereka, tiduran sambil bermain handphone, menanyakan suamiku sudah sampai mana, mengabarkan kalau aku sudah bukaan enam. Suamiku masih di jalan kala itu, aku masih sempat berhitung apakah ia bisa sampai sebelum aku melahirkan, rasanya ia akan telat, batinku. Suster yang agak heran melihat tingkahku menanyakan apakah aku tidak merasa sakit? Aku hanya tersenyum santai, sakit sih sus, tapi gak sakit banget. Dia bilang biasanya kalau ibu-ibu yang lain sudah menjerit-jerit bahkan dari saat pembukaan satu. Aku hanya nyengir. Karena sungguh memang aku belum merasa sakit yang teramat sangat.

Kemudian dokterku datang, ia baru saja selesai memeriksa pasirn terakhirnya. Waktu itu jam 14.30. Pembukaanku masih enam menuju tujuh. Sang dokter menanyakan hal yang sama padaku, ibu nggak sakit? Aku hanya nyengir, lagi. Kemudian ia memutuskan untuk memberiku obat perangsang mules. Menurutnya, akan berbahaya bila sampai pembukaan lengkap tapi aku tidak merasakan mules seperti seharusnya. Lagipula lebih cepat lebih baik, menurutnya yang sudah lelah praktek dari pagi tadi, haha.

Aku agak ragu, apakah aku harus menunggu suamiku terlebih dahulu atau tidak. Aku juga agak takut karena saat persalinan pertamaku itu, aku merasa sakit luar biasa saat diberi obat itu. Tapi akhirya aku meminumnya, setengah tablet. Dan seperti dugaanku, setelah meminum obat itu, perutku mulai merasakan mules luar biasa. Kuat sekali, dan semakin lama semakin sakit. Aku menahan sekuat tenaga agar aku tidak ngeden sebelum waktunya. Aku tak mau mengulang kesalahan persalinan pertama dulu.

Sebagai ibu beranak dua, aku boleh berbangga, karena setiap kali aku melahirkan, aku tak pernah berteriak kesakitan ataupun histeris. Setiap rasa sakit yang kurasakan aku simpan untukku sendiri, dan aku hanya menahannya dengan ucapan istigfar perlahan ataupun hembusan nafas dalam. Tanteku yang turut menemani sampai tak tega melihatku dan menyuruhku untuk berteriak kalau menang sakit. Tapi aku memilih untuk tetap diam.

Hingaa tepat pukul 15.30, aku dinyatakan pembukaan lengkap. Dokter bergegas masuk ke ruang persalinan. Saat bukaan lengkap pun, dokter tak melihat perubahan ekspresi dariku. Suamiku juga masih belum datang. Kemudian dokter memanduku untuk mengeluarkan bayi dari dalam perutku. Dengan dua kali tarikan napas, keluarlah bayi mungil itu. Dokter mengatakan bahwa aku hebat sekali, melahirkan tanpa satu kalipun berteriak kesakitan.

Alhamdulillah, bayi mungilku sudah lahir dengan berat 2,64kg dan panjang 49cm. Mama menjadi orang yang mendampingi persalinanku. Dan papa sudah menunggu di depan ruang persalinan. Ketika sudah terdengar suara tangisannya, papaku buru-buru masuk ke dalam untuk mengumandangkan adZan dan iqomah di kedua kupingnya. Tak lama kemudian ayahnya sampai di rumah sakit. Ia terharu melihat aku dan bayi perempuannya telah selamat dalam momen luar biasa itu.
Selamat datang di dunia bayi cantikku, bersinarlah untuk memberi kebaikan bagi banyak orang! 






Friday, March 23, 2012

Semangat shopping, baby girl!

Setelah pindahan rumah ke sini, mau bagi-bagi cerita lagi nih..

Alhamdulillah, sekarang kehamilan udah masuk 31 minggu.. menghitung minggu menuju kelahiran my baby girl (insya Allah)..
Nah, buat calon ibu yang menanti kelahiran bayinya, urusan nyiapin kebutuhan bayi nantinya pasti lumayan bikin ribet.. saya malah sampe kebawa mimpi segala.. (halah, lebay!)
Browsing sana-sini, kira-kira apa aja yang harus dibeli, n dimana tempat yang murah buat beli nya..
Banyak yang nyaranin di ITC Kuningan, karena disana ada bejibun toko bayi dengan barang yang lucu-lucu. Tapi setelah dipikir2 jarak, ongkos, dan effort yang harus dikeluarin untuk sampe sana, saya memutuskan untuk belanja di mangga dua aja deh yang dekat dari rumah..

Berhubung ini anak kedua, jadi masih ada sedikit peninggalan dari kakaknya..
ga perlu beli box bayi (karena emang dari anak pertama ga pernah pake boks), ga perlu beli stroller (masih ada bekas kakak)..
Setelah bongkar2, ternyata peninggalan kakak cuma sedikiiiit banget, kebanyakan udah dilungsurin ke sodara2.. yang artinya masih banyak yang harus dibeli untuk baby girl.. (bundanya langsung semangat belanja, ayah yang nyiapin duitnya yang jadi lemes, hahaha..)

Dua kali bolek-balik ke mangga dua, akhirnya selesai juga belanja untuk baby girl..
Ini catetan belanja n review toko bayinya, kali aja ada yang membutuhkan :

Toko Panen Mas, Pasar Pagi Mangga 2 Lantai SB No.007-009
1 lusin popok 'Kyoto'                                  Rp.45.000
1 lusin celana pop 'Puku-puku'                    Rp.35.000
3 set baju tangan pjg + celana panjang         Rp.65.000
3 pcs celana pjg tutup kaki 'BB Bear'          Rp.35.000
1/2 lusin baju tgn pdk + celana pop             Rp.70.000
Total :                                                        Rp.250.000
Cat : menurut gue disini barang2nya termasuk murah, walaupun merk nya ga terkenal, tapi bahannya lembut n enak.. mbak-mbak nya juga baik deh, diakhir belanja masih dikasih potongan 10ribu.. hehe.. lumayan..

Toko Lidos, ITC Mangga Dua Lantai 3 Blok C No.60
1/2 lusin bedong G2                                  Rp.66.000
3 pcs sarung tangan kaki 'Chery House'     Rp.20.000
2 pcs topi kerucut 'Nova'                          Rp.30.000
3 pcs slaber 'chery house'                          Rp.15.000
2 pcs kaos kaki 'miti baby'                         Rp.9.000
Total :                                                       Rp.140.000
Cat : Toko ini banyak direkomendasiin sama mommy2 di forum n blog, karena katanya termasuk murah di Mangga Dua.. Tapi menurutku sih, masih mahal di banding toko di pasar pagi, n gak bisa ditawar.. kecuali kalo emang mau yang bermerek, soalnya rata-rata yang dijual disitu merk bagus2 semua.. berhubung saya ga gila merek, jadi langsung balik lagi ke pasar pagi.. hehe

Toko ???, Pasar Pagi Mangga Dua Lantai SB
1/2 lusin bedong G2                                Rp.65.000
1 lusin gurita ikat 'pretty'                          Rp.40.000
Total :                                                     Rp.105.000
Cat : lupa deh nama tokonya apa, cuma karena lagi mau cari toko panen mas lagi ga ketemu, iseng-iseng nanya harga bedongan disini. ya, harganya sama-sama aja sih. tapi harga baju-bajunya menurut saya masih mahal, jadi lanjut cari toko lain.

Toko Bintang, Pasar Pagi Mangga Dua Lantai SB (depannya toko Panen Mas)
1 pcs perlak polos besar                        Rp.50.000
1 set topi sarung tgn kaki 'Chiyo'            Rp.20.000
1 pcs selimut topi 'Carter'                       Rp.65.000
1 lusin singlet 'Tris' ukuran S                   Rp.50.000
1/2 lusin baju tgn pendek 'Caney'           Rp.47.500
3 pcs baju kutung 'Caney'                      Rp.21.500
Total :                                                   Rp.254.000
Cat : Toko ini recommended banget deh, harganya murah, barangnya lengkap, cici n koko yg punya toko juga ramah. kemaren pas beli disini, ga sempet nawar lagi, berhubung udah sore, n menurut saya juga udah murah dibanding toko2 sebelumnya.. tapi gatau juga sih kalo dibanding sama yang di ITC Kuningan..

Jadi kalau ditotal-total, belanja heboh ini hanya membutuhkan Rp.749.000 saja.. Murah kaaaaaan?
Insya Allah cukup deh untuk baju sehari-hari my baby girl..

Oia, untuk mommy yang baru mau lahiran anak pertama, saran saya sih, (belajar dari pengalaman), belanja kebutuhan bayi nya seperlunya dulu aja, nanti pasti banyak banget hadiah dari saudara n temen-temen..
Contoh barang-barang yang biasa didapet dari hadiah :
1. Handuk (lahiran pertama dapet  lebih dari 3)
2. Tas Bayi (lahiran pertama dapet 3, masih bisa dipake untuk calon baby)
3. Selimut (lahiran pertama dapet 1, belum dipake, n masih dipake untuk calon baby)
4. Stelan baju pergi (lahiran pertama dapet banyak bgt, sampe ga perlu beli baju kakak sampe umur 6 bulan)
5. Sepatu (lahiran pertama dapet 3 pasang)
6. set tempat makan n minum bayi (lahiran pertama dapet 3 set, sampe dijadiin kado lagi buat orang lain :p)
7. alat kosmetik bayi (lahiran pertama dapet banyak bgt, jadi ga perlu beli-beli deh)
8. ada juga yang ngasih kasur bayi+bantal+guling, dll.

Jadi, untuk barang-barang semacam ini, lebih baik ga usah beli dulu.. bukannya ngarep dari hadiah sih, tapi daripada nanti malah mubazir.. :p
selain itu, bisa juga qta request hadiah ke sodara atau temen2, barang2 yang belum kita punya, jadi semuanya bisa jadi lebih bermanfaat.. :)

Selain baju sehari-hari untuk my baby girl, perlengkapan bayi lainnya yang saya beli (via online) adalah :
1. Breastpump Medela swing elektrik (second)           Rp.1.000.000 (beli lewat kaskus)
2. 1/2 lusin cloth diaper GG                                        Rp. 373.000
3. Kain menyusui                                                        Rp. 70.000
4. Medela Calma (botol susu)                                     Rp.195.000
5. Botol kaca ASIP 80 bh @1.800                            Rp. 244.000
6. Ice Gel Besar 5 buah @20.000                              Rp.100.000
7. Sepatu bayi                                                            Rp. 45.000
8. Jumper carter tangan pendek isi 5                           Rp. 65.000
9. Jumper Carter tangan panjang                                 Rp. 50.000
10. Romper animal 'dalmatian'                                    Rp. 58.000
11. Romper Polo 'Red'                                               Rp. 70.000

Yang penting sih sebenernya cuma nomer 1 sampe 6 aja..
Sebagai working mom yang mau bikin baby girl S3 Asi, semua perlengkapan harus disiapkan sejak dini.. (Gak mau kecolongan lagi kaya kakak dulu, cuma bisa sampe S1 Asi)
Kalo diliat harganya, medela swing elektrik emang mahal, tapi worth it untuk menjadi pejuang ASI.. dibanding harga susu formula yang edan-edanan mahalnya..
Oia, medela calma itu sejenis botol susu khusus yang dirancang seperti payudara ibu, walau dibalik pun air didalam ga akan netes, karena baru akan keluar kalo dihisap.. kenapa saya pakai ini? supaya baby girl ga bingung puting.. jadi dari awal gak akan saya kenalin ke dot biasa..
Trus apa perlu botol kaca sebanyak itu? jawabannya wajib, sodara2! Karena kebutuhan minum bayi itu beda-beda, semakin banyak kita nyimpen, akan semakin bagus.. jadi stok yang melimpah akan membuat kita mampu bekerja dengan tenang..

(Kalo yang nomer 7 sampe 11, itu cuma karena bunda nya mulai kecentilan aja, udah ga sabar pengen punya baby girl.. hihihi..)

Segitu dulu deh daftar belanjanya, yang penting yang utama udah terpenuhi..
Yang mau nambahin, silahkan :)
Selamat menanti kelahiran, calon bunda...


Friday, March 11, 2011

Kehamilan Pertamaku : Demi Aqqil, Bunda Rela Menjadi Gendut, Buruk Rupa, Puasa Indomie, dan Kena Cacar..

Aqqil adalah panggilan kesayanganku untuknya, artinya berakal alias cerdas. Raqqil Mahfudza Hayat, adalah lengkapnya. Nama yang aku berikan untuk buah hatiku, setelah perdebatan panjang kali lebar kali tinggi dengan suamiku, kami menyepakati nama ini (dengan setengah paksaan dariku kepada suamiku). Dalam namanya, kami berdoa agar dalam hidupnya ia selalu diridhoi Allah untuk menebar kebaikan. Semoga Allah mengabulkan doa kami berdua.

Kehamilan pertamaku, seperti kehamilan pertama ibu lainnya, menjadi pengalaman tak terlupakan. Padahal dulu pada awal pernikahan, aku tak ingin langsung punya anak karena merasa belum siap untuk menjadi seorang ibu. Aku ingin menunda kehamilanku dan menghabiskan setahun atau dua tahun berdua dengan suamiku, karena sebelumnya kami tidak berpacaran. Semacam honeymoon dulu lah kalo boleh dibilang. Sementara suamiku pengen segera menimang anak, dan ia takut jika kita menunda kehamilan, malah nanti akan susah untuk punya anak.

Dan ternyata Allah menunjukkan kehendak-Nya. Selang empat bulan dari hari pernikahanku pada Desember 2008, aku merasakan mual yang terus menerus di pagi hari. Harap-harap cemas, aku mencoba memakai testpack untuk mengetahui apakah benar aku hamil atau tidak.  Rasanya ingin melonjak kegirangan ketika di dalam kamar mandi, garis merah di testpack itu ada dua. Aku positif!
Entah senang karena ini adalah hal yang diinginkan suamiku, atau senang karena aku mulai bosan ditanya oleh semua orang sudah hamil atau belum, tapi aku benar-benar excited mengetahui ada mahluk super mungil di dalam tubuhku. Sambil tak dapat menahan senyum, aku keluar kamar mandi dan menunjukkan hasil testpack itu kepada suamiku. Suamiku berucap keras, Alhamdulillah, sambil ikut tersenyum lebar. Tokcer!

Untuk menambah keyakinan kita berdua, kita datang ke salah seorang dokter kandungan senior di RS Budi Jaya di daerah Tebet. Sang dokter, tanpa ekspresi, menyatakan bahwa aku sudah hamil 8 minggu, dan sudah terlihat embrio sebesar biji kacang dalam kantung kehamilanku. Karena udah begitu seringnya kali ya ni dokter periksa ibu hamil, sampai nggak ada ekspresinya sama sekali.
Setelah tahu ada calon bayi dalam perutku, kujalani hari dengan sebaik-baiknya, sekuat tenaga dan daya upaya agar ia bisa terlahir dengan sehat dan selamat. Kebiasaanku pun terpaksa berubah. Mulai bawel kalau ada orang yang merokok di dekatku, banyak makan buah dan sayur (lebih banyak buah sih daripada sayur), mati-matian nggak makan indomie (walaupun beberapa kali kecolongan karena suamiku suka 'ngabibita' makan indomie tengah malem), mati-matian berusaha minum susu ibu hamil yang rasanya menurutku bikin mual, minum serentetan vitamin DHA dan kalsium, dengerin musik klasik, banyak sholat ngaji dan berdoa. Pokoknya semua kegiatan yang 'kata orang' seharusnya dilakukan oleh ibu hamil.

Dan luar biasa bahagianya suamiku, ketika hasil USG menunjukkan bahwa jabang bayi yang kukandung ini berkelamin laki-laki. Ia dengan bangganya mengakui bahwa Allah memang Maha Baik karena telah mengabulkan permintaannya bahwa ia menginginkan anak pertamanya seorang laki-laki. Aku sih senyum-senyum saja melihat tingkahnya yang jadi seperti anak-anak baru dibelikan mainan. Laki-laki atau perempuan yang penting dia sehat, kalo menurutku dalam hati. Lagian, ini juga baru anak pertama, apa aja nggak masalah. 

Tapi ternyata, selain hasil USG yang menduga kalau anakku laki-laki, tanda-tanda lain juga muncul pada tubuhku. Kalau kata orang (lagi), biasanya hamil anak laki-laki itu bikin ibu tampak lebih jelek dari biasanya. Si ibu males mandi, males dandan, males ngapa-ngapain. Daaaan, itu memang terjadi padaku. Aku dengan luar biasanya males sekali mandi, sehari sekali juga udah alhamdulillah. Jerawat mulai muncul di sekitar wajah dan tubuhku, dan aku cuma bisa pasrah karena kata ibuku itu pengaruh homon kehamilan. Kulit di sekitar wajah leher dan perut juga terlihat menghitam, sekitar muka (bibir dan hidung) membengkak, bahkan kaki pun bisa ikut membengkak. Percaya atau tidak, setiap aku mau berdandan memakai bedak, make-up itu seperti nggak mau menempel di kulit wajahku. Alhasil aku jadi seperti lenong. Suamiku sampai kasihan melihat kondisiku. Yah, persis seperti itulah yang terjadi padaku. Jauh dari kata 'cantik'!! (Dari sononya emang nggak cantik-cantik banget, jadi implikasinya signifikan, hehe). Tapi aku tetap sabar menjalani hari-hari buruk rupa itu, demi cinta dalam rahimku. Kata orang (lagi-lagi), nanti penampilan mengerikan itu akan kembali pada kondisi normalnya. 

Tapi harus kuakui, selain perubahan fisik yang mengalami downgrade, kehamilanku sebenarnya sangat tidak bermasalah. Padahal, ibuku sudah khawatir aku akan bermasalah -harus bedrest dan sebagainya- pada saat hamil, seperti yang dia alami saat mengandung anaknya dulu (aku maksudnya,hehe). Alhamdulillah, aku cuma mengalami 'ngidam' dua kali. Pertama, saat aku belum tau bahwa aku hamil. Ketika itu aku sangat amat ingin minum jus buah. Melihat didalam kulkas hanya ada tomat, akhirnya aku dengan sangat tidak biasa membuat jus tomat yang menurutku sangat lezat. Kedua, saat kandunganku berumur 4 bulan, aku yang sebelumnya tidak suka, tiba-tiba sangat mengidamkan gulai kepala ikan kakap. Aku kemudian makan satu porsi kepala ikan kakap di rumah makan padang 'Simpang Raya'. Satu porsi habis olehku sendiri, dan suamiku cuma bengong melihat istrinya tiba-tiba begitu doyan gulai kepala kakap. Aku baru tahu, ternyata ngidam itu memang bener-bener ada. 

Drama buruk rupa yang merundung pada masa kehamilan pertama ini rupanya belum cukup. Pada bulan ketujuh, aku tiba-tiba terkena sakit cacar. Aku yakin, virus cacar ini menular ketika aku pergi medical check-up ke sebuah RS Umum, dan mungkin duduk sebelahan dengan pasien cacar yang baru sembuh. Dari kecil, aku memang belum pernah sakit cacar, dan mungkin aku harus merasakan juga sakit cacar ini sekali dalam hidupku. Namun, entah mengapa cacar itu datang pada saat yang sangat tidak tepat, saat sedang hamil besar. Aku sempat khawatir karena virus cacar itu bisa juga membahayakan janinku, terlebih aku harus minum obat yang agak keras untuk melawan virus cacar itu. Akhirnya aku mengungsi kerumah ibuku di bandung selama dua minggu, untuk menyembuhkan gatal-gatal dan panas di seluruh kulitku. Sembari berdoa semoga janinku tidak terkena pengaruhnya.

Bulan kesembilan tiba, dan aku sudah bersiap-siap cuti dari kantor. Aku berencana melahirkan di Bandung, sehingga seminggu sebelum duedate aku pulang ke rumah Ibu dan menunggu tanda-tanda mules itu datang. Seminggu diam dirumah, menjelang umur kehamilan 40, belum ada tanda-tanda mules atau kontraksi. Pernah ia datang sekali, tapi setelah itu tak muncul lagi. Itu yang disebut dokter sebagai kontraksi palsu. Ibu dan suamiku terus menyemangatiku untuk rajin berjalan kaki, banyak bergerak, jongkok dan mengepel lantai. Setiap pagi, aku dengan semangat terus berjalan cepat di taman kompleks, senam hamil, sambil merasa-rasa apakah mules itu akan datang. Karena sudah masuk minggu ke-40, aku berkonsultasi dengan dokterku dan mengutarakan kecemasanku. Dokterku bilang kita tunggu lagi 1 minggu karena air ketubanku masih cukup dan baik. Ia menyarankanku untuk sering berhubungan dengan suamiku. Tapi apa daya, suamiku sendiri juga nggak tega untuk melakukan ritual denganku yang berbadan seperti ikan paus, hahaha. Dokter juga memberika obat perangsang mules yang katanya bisa diminum sehari sebelum kehamilanku memasuki 41 minggu. Kalau sampai minggu depan tidak ada mules juga, maka dokter akan mengambil tindakan induksi ataupun operasi cesar jika diperlukan. Duh, ketar-ketir banget deh aku ini. Ayo, nak, jangan terlalu betah di dalam perut bunda ya.

Beberapa hari setelah kontrol ke dokter, aku masih menyempatkan diri nonton bioskop di mall. Aku ingat, film yang kutonton adalah film 2012 yang waktu itu heboh dengan praduga kiamat itu. Hari itu adalah hari senin, dua hari sebelum kehamilanku masuk 41 minggu. Aku meminta izin suamiku untuk meminum obat perangsang mules itu, tapi suamiku menyuruhku menundanya hingga hari rabu, karena ia ingin anaknya tidak lahir di hari selasa (katanya orang yang lahir di hari selasa itu agak keras kepala). Hingga akhirnya waktu tiba pada rabu istimewa itu. Aku dan suami sudah memantapkan hati, jika sampai sore ini aku tidak mules juga, aku akan meminum obat perangsang mules itu. Pagi hingga siang, semua berjalan seperti biasa. Aku masih bisa tidur siang, walaupun entah kenapa aku merasa tidak enak perut. Aku baru menyadari belakangan, mungkin itulah yang dinamakan awal-awal kontraksi.

Jam enam tepat, sebelum maghrib, aku masih sempat menyantap makan malam buatan ibuku. (Alhamdulillan, makanan ini jadi bekal tenaga). Setelah makan, aku meminum obat perangsang mules itu. Dengan harapan besok pagi aku sudah merasakan mules itu. Tapi ternyata, mules itu datang lebih cepat dari dugaan. Setengah jam kemudian, tiba-tiba perutku terasa melilit, rasanya seperti cucian yang diperas sekuat tenaga. Sakit sekali. Beberapa kali aku bolak-balik ke kamar mandi, karena kupikir aku ingin buang air besar. Tapi percuma, di kamar mandi pun aku tidak bisa menghilangkan mules ini. Aku bilang pada ibuku bahwa perutku sudah terasa mules banget, mungkin inilah sang kontraksi itu. Tapi ibuku dengan santainya bilang bahwa ini masih kontraksi awal, dan biasanya hal ini akan berlangsung lama, bahkan bisa belasan jam. Akupun kemudian berusaha santai walaupun peraasaan mules itu sungguh tak tertahan. Malah, aku masih sempat memberitahu ibuku cara update status di facebook. 

Ibuku bilang, biasanya kontraksi awal itu terjadi setiap 3 atau 4 jam sekali, hingga kemudian bertambah tinggi intensitasnya menjadi 1 jam sekali, hingga nanti pada akhirnya menjadi 5 menit sekali. Namun yang kurasakan sungguh berbeda. Aku langsung merasakan kontraksi hebat itu hampir setiap lima menit sekali. Bahkan lima belas menit kemudian, flek darah sudah keluar. Ibuku keheranan, masak iya sih udah 5 menit sekali? Iya mah, sumpah deh ini sakitnya udah 5 menit sekali. Lagian ngapain juga ya aku bohong? heuheu..

Berdasar petuah dari mertuaku, jangan pergi ke Rumah Sakit sebelum ada flek darah yang keluar. Kemudian, aku putuskan menelefon mertuaku dan melaporkan keadaan, bahwa flek darah sudah mulai keluar. Mertuaku kemudian menyarankan untuk berangkat ke Rumah Sakit, katanya mungkin beberapa jam lagi kamu akan melahirkan. Saat itu sekitar jam setengah tujuh, kita putuskan untuk segera ke RS saat itu juga. Namun sayang, mobil dirumahku sedang dipakai adikku kuliah. Dan butuh waktu satu jam lagi hingga ia tiba di rumah. Ibuku seketika panik, bingung, berjalan gusar kesana kemari. "Udah, mama jangan panik. Aku yang mau ngelahirin aja, santai." Ujarku sesaat sebelum pergi ke RS, sambil cengengesan. 

Akhirnya aku memutuskan mengikuti usul suamiku untuk berjalan ke Rumah Sakit yang berjarak 500m dari rumahku. Aku berjalan perlahan, dituntun oleh suamiku yang sudah siap menemaniku sejak seminggu lalu. Hampir setiap tiga menit sekali, perutku dirundung sakit yang sangat melilit. Sakitnya seratus kali lipat dari sakut perut saat menstruasi yang menurutku sebelumnya sudah sangat sakit itu. Dan setiap kali sakit itu datang, aku berhenti berjalan, terjongkok menahan sakit. Terbayanglah, berapa lama yang kubutuhkan untuk sampai di RS yang sebenarnya dekat itu. Tetanggaku yang baru pulang melihatku dan menawarkan untuk mengantarku ke RS, namun aku menolak karena aku tak ingin merepotkan. Beberapa langkah lagi aku berjalan, sakitnya semakin menjadi. Beruntunglah, ada seorang tukang becak yang lewat. Sehingga akhirnya kami berdua naik becak ke RS tersebut.

Sampai di depan pintu RS, aku mengaduh sembari menahan sakit. Sang suster tersenyum simpati, ia menyambutku dengan membawa kursi roda dan menyuruhku duduk di situ. Ia mendorongku ke ruang persalinan sembari mengingatkan bahwa ini masih awal, jadi aku harus sabar, karena semakin lama pasti akan semakin sakit. Aku cuma diam meringis kesakitan. Sampai di ruang persalinan, kemudian ia menyuruhku berbaring untuk memeriksa pembukaan leher rahimku, ini dinamakan pembukaan dalam. Aku kaget sekali karena suster itu memasukkan jarinya ke leher rahimku, dan rasanya ngilu-ngilu gimana gitu. Alangkah terkejutnya suster itu, karena ternyata pembukaanku sudah masuk di angka 8cm, alias pembukaan 8, dua tahap sebelum pembukaan penuh. Yang artinya, tak lama lagi bayiku akan lahir. Ia mengaku biasanya orang-orang baru pembukaan 1, 2 atau 3 saat pertama kali masuk RS. Apalagi, ini persalinan anak pertamaku. Ia kemudian dengan sigap memberi tahu suster lainnya untuk bersiap-siap karena sebentar lagi aku akan melahirkan. Ia mengganti pakaianku dan memperingatkanku untuk tidak mengejan sebelum bukaan lengkap. Ia juga menyuruhku tidur menyamping supaya proses pembukaan menjadi lebih cepat.

Saat itu, detik demi detik merambat sangat lambat. Sakit yang luar biasa aku rasakan di sekitar perut, pinggang, punggung dan selangkanganku. Aku merasa bayiku sudah mendorong keluar dengan begitu dahsyatnya. Aku pun sudah tak sanggup menahan sakitnya, sehingga aku beberapa kali mengejan walaupun belum waktunya. Tiga menit sekali, gelombang sakit itu datang. Setelah dua puluh hingga tiga puluh menit paling melelahkan, suster kembali datang dan mengecek pembukaanku. Kemudian ia mengatakan bahwa aku sudah siap dengan bukaan lengkap. Suster segera memanggil dokter. Sementara aku masih menahan sakit dengan menjepitkan jari-jari tanganku di ranjang. Hatiku tak henti mengucap doa dan memohon pertolongan, walaupun mulutku terkatup rapat nyaris tanpa suara. Suamiku menunggu diluar, ia tak tahan melihatku yang bersimbah darah (ceile udah kaya lagi adegan film kolosal), sementara ibuku yang baru datang memegang tanganku sembari menyemangatiku.

Dokter dihadapanku telah bersiap. Aku merasakan dorongan yang sangat kuat dari dalam rahimku, seolah-olah jabang bayi ini ingin segera keluar. Pada saat itulah, dokter berkata bahwa ia telah melihat kepala bayiku, dan menyuruhku untuk mendorong bayi keluar. Dorongan pertama belum berhasil. Karena tiba-tiba rasa itu hilang, dan dokter menyuruhku untuk berhenti mendorong. Aku meraih nafas. Tak lama, aku merasakan dorongan itu lagi. Tentunya kesempatan kali ini tak kulewatkan sia-sia. Aku mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorong kepala bayiku yang cukup besar menurut dokter. Namun masih belum berhasil. Dokter mengingatkanku untuk tidak terpejam saat mengejan, khawatir akan berakibat pada kerusakan syaraf mata. Ia meminta izinku untuk menggunting sedikit jalan lahir untuk bayiku, karena aku masih kesulitan mengeluarkan kepala bayiku. Dokter khawatir aku akan kehabisan tenaga. Terdengar bunyi krek seperti orang sedang menggunting kain, tapi aku tidak merasakan apa-apa. Dokter juga menyuruh ibuku untuk membantu mendorong bayi dalam perutku, dan aku disuruh mengatur nafas. Ketika mules itu datang lagi, dokter menyuruhu mengejan dengan lebih keras, mengatupkan mulut dan membuka mataku. Dan, aku berhasil! Seketika kepala bayiku keluar, suster menyuruhku bernafas pendek-pendek untuk membiarkan tubuh bayiku keluar. Tidak sesulit sebelumnya, tubuh bayiku terasa lembek dan kenyal seperti agar-agar.

Seketika dokter mengangkat bayiku, dan mengatakan selamat karena bayiku sehat, seketika hatiku langsung dihempas gelombang bahagia penuh syukur dan haru yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku merasa begitu bersyukur atas kebaikan yang diberikan Allah SWT padaku dan anakku. Masih tak percaya bahwa akhirnya aku telah dipercaya menjadi seorang ibu. Saat melihat wajahnya yang mungil dan tanpa dosa, aku terharu sekali, ternyata aku mampu menjadi seorang ibu. Dan saat itu juga aku langsung ingin memeluk ibuku, mengucapkan terima kasih karena sekarang aku baru tau perjuangan seorang ibu saat melahirkan.

Suster kemudian menaruh bayiku tepat di atas dadaku. Kami dekat sekali. Matanya seolah memandangiku dan mengatakan halo, bunda. Ia kemudian mengemut tangan mungilnya sambil terus memandangiku. Ah, tak akan mungkin aku lupa tatapan mata pertamanya, betapa aku jatuh cinta. Tatapan indahnya meluluhkan hatiku, yang membuatku berjanji untuk selalu menjadi yang terbaik baginya. Mulut mungilnya kemudian mulai mengecap dan mencari-cari sumber susunya. Cintaku telah terlahir penuh kasih.
 

Takkan terlupakan. Bandung, 18 November2009. 20.30 WIB.












(Jakarta, 11 Maret 2011)