Tuesday, September 30, 2014

Raja Ampat : Canoe di Saleo, dan Terapung di Saonek Monde





Pantai Perawan Raja Ampat
Salah satu kemewahan bagi saya adalah bisa berlibur di tempat-tempat dengan alam menawan, namun tanpa keramaian. Kemewahan itu saya rayakan ketika berada di kepulauan timur Indonesia yang masih minim terjamah manusia. Harga tiket pesawat dan akomodasi yang mahal mungkin menjadi penyebab sedikitnya pengunjung ke sana. Entah patut disayangkan atau disyukuri, tapi hal itu menurut saya sedikit banyak berpengaruh pada kondisi alam yang masih terjaga keasliannya. 




Kabupaten Raja Ampat di Papua Barat tentulah menjadi salah satu destinasi wajib bagi para penggila travelling. Berada dalam garis segitiga terumbu karang (coral triangle), Raja Ampat menjadi pusat keanekaragaman laut alam tropis terkaya yang dimiliki dunia saat ini. Keindahan alam di atas daratan dan di bawah lautan diakui sebagai yang terbaik. Dan saya beruntung menjadi salah satu yang bisa ikut menikmatinya.
Pin entrance Raja Ampat

Waktu itu adalah hari terakhir kami di Waisai, Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat. Itinerary hari itu akan diisi oleh bersantai di pulau-pulau perawan yang tersebar hampir di seluruh kepulauan. Dari 610 pulau yang ada, hanya 35 diantaranya yang berpenghuni. Yang membahagiakan adalah, setiap pulau memiliki garis pantai pasir putih bersih yang memunculkan gradasi warna air laut yang indah, antara putih-tosca muda-hijau kebiruan-biru muda-biru tua. Tak perlu repot piilh-pilih pulau mana yang paling indah dan paling perawan, karena semua sama indahnya-sama perawannya. Hmmm.. Heaven!

Speedboat penjelajah pulau





Beberapa dari ratusan pulau di Raja Ampat

Dalam itinerary saya memang tidak ada agenda untuk diving, tapi tanpa menyelam ke bawah laut pun saya sudah dibuat kagum oleh keindahan alam atas laut Raja Ampat. Pulau pertama yang kita kunjungi adalah Waiwo. Jaraknya hanya sekitar 10 menit dari pelabuhan Waisai. Disini terdapat diving resort, penginapan yang sekaligus menyediakan jasa untuk diving. Berdasarkan info, resort disini harganya paling murah diantara resort lainnya, hanya berkisar Rp 600rb per malam untuk 2 orang. Mungkin harga yang cukup terjangkau itu disebabkan wilayah ini dikelola oleh orang lokal.  Sementara resort di pulau lain, hampir semuanya dimiliki orang asing, dan tarifnya pun luar biasa, semalam sekitar 5juta! Fantastis deh, hampir sama dengan gaji saya satu bulan. 

Pepohonan yang rimbun dan tampak memenuhi pulau menjadi pemandangan pertama saya ketika tiba di pulau Waiwo ini. Terlihat sebuah jembatan panjang yang menjadi penyambut kedatangan kami. Berjalan ke dalam, terdapat gapura bertuliskan Waiwo Dive Resort. Paket diving yang ditawarkan disana pun cukup murah, hanya 300rb – 500rb per spot. Di sebelah kirinya terlihat sederetan rumah-rumah kayu yang merupakan resort yang bisa disewa oleh para tamu. Kami hanya berjalan melihat-lihat resort tersebut, dan memutuskan duduk-duduk di depan restoran yang menghadap pantai. Pepohonan di pulau ini begitu rindang, menahan sinar matahari yang pada waktu itu mulai terik. 
 
Penampakan Pulau Waiwo dari jauh

Jembatan di Pulau Waiwo

Gerbang menuju Waiwo Resort
 
Bersantai di pulau Waiwo

Rimbunnya pepohonan di Pulau Waiwo


Teman saya yang sedari tadi tidak sabar, mengajak kami untuk segera snorkeling di ujung jembatan. Beberapa orang terlihat sudah lebih dulu menceburkan diri. Kemudian kami berlari ke dermaga dan bersiap melompat dari ujung dermaga untuk menceburkan diri ke laut. Namun niat kami itu dilarang oleh penjaga di pulau itu. Ternyata di pulau itu kami tidak diperbolehkan loncat dari jembatan tersebut, karena akan membuat ikan-ikan ketakutan, sehingga menyulitkan orang-orang yang akan snorkeling atau diving. Akhirnya kami pun menurut dan memilih turun melalui tangga. Tak perlu berenang terlalu jauh, pemandangan terumbu karang berwarna warni dan ikan beraneka rupa di bawah laut sudah menyapa pandangan kami dari balik google.



Snorkeling di Waiwo

Penampakan ikan-ikan 50cm dibawah permukaan laut

Setelah puas snorkeling di Waiwo, kami beranjak ke pulau Saleo yang berjarak hanya sekitar 5 menit. Air laut jernih dengan alas pasir putih, membahagiakan hati kami yang langsung berenang dan bermain air di pinggir pantai. 




Bahagiaaa..!

Disini kami pun memutuskan untuk menyewa kano ke tengah laut sambil menikmati pemandangan laut yang tenang. Harga sewa kano disini cukup murah juga, hanya Rp 50rb untuk berdua, sepuasnya. Saya dan suami saya mendayung kano bersama. Cukup romantic tampaknya. Tapi ternyata agak sulit juga menyesuaikan gerakan kita dalam mendayung kano. Kita harus menyeimbangkan dayungan kanan dan kiri, antara orang yang di depan dan di belakang, serta mengontrol arah kano bergerak. 

Awalnya, gerakan kami sering tidak singkron. Beberapa kali kami hanya berputar-putar di tempat, dan kami pun hanya bisa pasrah menertawai kebodohan kami. Angin yang cukup kencang juga mengombang-ambingkan kano kami, untunglah ombak tidak terlalu kuat sehingga kami tak terlalu kewalahan. Seorang teman saya bahkan sempat tercebur ke laut, akibat ia mencoba mengambil dayung yang terjatuh. Kami pun hanya bisa menertawainya dari jauh, tak mampu menolong lebih banyak. Kurang lebih satu jam kami duduk di atas kano dan terpukau dengan keterasingan kami di tengah lautan luas.


Kewalahan mendayung kano
 
Pemandangan dari atas kano

Setelah menjelajahi pulau Saleo dan Waiwo, speedboat kembali bergerak dan merapat ke pulau kecil dan tersembunyi bernama Saonek Monde. Letaknya masih dekat dengan dua pulau sebelumnya. Masih dengan semangat yang sama, saya menurunkan kaki kembali di hamparan permadani pasir putih nan lembut yang terbentang sepanjang bibir pantai. Pulau seluas kurang dari 1 hektar ini tak berpenghuni. Dalam setengah jam, kita dapat berjalan kaki mengelilinya. Saat itu kami bak milyarder yang dapat merasakan nikmatnya memiliki pulau pribadi, karena hanya kami bertujuh yang ada disana. Saya membiarkan pasir putih sehalus debu dan air bening setinggi mata kaki ini merendam kaki saya, terasa lembut dan hangat di telapak kaki, membuat saya tak ingin beranjak. Air dihadapan saya ini terlihat sungguh bening, seperti air mineral kemasan yang bisa langsung diminum. Memandang lebih jauh, air bening ini pada beberapa meter didepannya berubah menjadi hijau muda, semakin jauh hingga akhirnya berwarna biru. Tanpa riak, lautan ini sungguh bagai telaga yang tenang namun sekaligus menghanyutkan. 


Pantai pasir putih Saonek Monde

Suami saya memilih berjalan menyusuri bibir pantai, memasuki celah bebatuan besar di pulau ini. Sementara saya membiarkan diri saya terapung beberapa waktu dalam kolam tanpa batas yang tenang, mendengarkan cerita air yang berdesir di telinga, menyapa putih biru cerahnya langit di hadapan mata.

 
Celah bebatuan raksasa di Saonek Monde
Terapung di Saonek Monde


Yes, we are so happy!

 Kemudian teman saya berteriak, memanggil saya untuk melompat bersama-sama dari ujung jembatan. Saya berteriak mengiyakan, kemudian berlari cepat ke ujung jembatan. Sebelumnya kami sempat bertanya pada guide apakah kami diperbolehkan untuk melompat, dan ia pun mengiyakan. Teman-teman saya sudah bersiap-siap, berbaris rapi di sisi jembatan, salah satu merelakan diri menjadi fotografer yang merekam momen penting itu. Kami kemudian menghitung bersama, 1..2..3.. kami pun berteriak dan melompat bersama. Seperti layaknya anak kecil yang selalu rindu bermain, kami bahagia sekali saat itu.




Jump just like a child
 
Tanpa terasa hari semakin siang, sebelum kembali ke Waisai, kami duduk bersantai di pinggir pantai menatap bentangan pemandangan indah di hadapan kami. “Aku nggak mau pulang”, ujar salah satu dari kami. Saya pun merasa begitu, tak ingin rasanya mengakhiri kepuasan mata yang bermanja dengan alam yang indah. Keterasingan tanpa hingar bingar dan hiruk pikuk orang ramai. Saya berjanji suatu waktu akan kembali lagi ke sini. Semoga manusia mampu terus menjaga, sehingga waktu tak akan mengurangi sedikitpun keindahannya.


High five for heaven in nature!

*tulisan ini menjadi pemenang utama Reader's Digest Travel Writing Competition 2014. :)

Tuesday, September 16, 2014

Wayag Raja Ampat : The Window of Heaven



Wayag on its best

Tuhan menciptakan begitu banyak tempat-tempat indah di dunia. Tapi, ketika anda melepaskan pandangan menatap hamparan Wayag dari atas bukit karang terjal, saat itulah anda akan sangat bersyukur pada Tuhan karena telah menghadiahkan cinta terindahnya pada negeri ini. Lautan bergradasi biru-tosca merendam kaki-kaki gunung karst hijau yang berjaga melingkar. Garis pantai pasir putih mengelilingi bukit-bukitnya, menambah nuansa warna-warni keindahan. Cakrawala biru luas yang digelayuti awan-awan putih keperakan, terasa mencumbu dan merengkuh bumi dengan begitu dekat. Keelokan warna, bentuk, cahaya, dan rasa yang tak terbayangkan sebelumnya. Bahkan mulut ini tak mampu menemukan lagi kata yang pantas untuk menggambarkan apa yang dilihat oleh mata.

Siapa menyangka tahun ini saya bisa kesampaian pergi ke destinasi travelling idaman. Spot terbaik di ujung timur Indonesia, Raja Ampat. Sebagai kejutan, suami saya menawarkan perjalanan ke Raja Ampat sebagai hadiah ulangtahun saya di Bulan April. Walaupun dengan berat hati harus meninggalkan anak-anak, saya akhirnya berangkat juga. Saat itu, suatu komunitas travelling sedang menawarkan paket open trip ke Raja Ampat dengan harga yang relatif murah. Sekitar 4,5juta per orang selama 5 hari dengan meeting point sorong. Dengan maskapai penerbangan yang paling murah, kami pun lantas menempuh perjalanan Jakarta – Sorong. Ya, memang perjalanan ini memaksa kami merogoh kocek cukup dalam.

Mendarat di Bandara Dominique Eduard Osok Sorong, kami bertujuh dalam rombongan langsung disambut guide perjalanan kami. Kemudian bertolak ke Waisai dengan menggunakan kapal ferry dari pelabuhan rakyat. Beberapa spot indah telah diceritakan dalam itinerary yang disiapkan. Salah satu spot yang membuat saya sangat antusias adalah Wayag. Beberapa kali saya browsing untuk mendapatkan foto Wayag, dan setiap kali itu pula saya merinding terkagum melihat keindahannya.

Naik speedboat menuju Wayag
Hari itu, kami bangun pagi-pagi sekali, menunggu kedatangan Speed Boat yang akan membawa kami ke kepulauan Wayag. Untuk sampai kesana, kami harus menempuh 5-6 jam perjalanan, tergantung arus dan cuaca. Walaupun pada saat itu Wayag sedang ditutup karena adanya sengketa antarsuku, namun guide kami memiliki cara untuk tetap dapat masuk dengan terlebih dahulu bernegosiasi di pos penjagaan.


Pantai pasir putih di pulau tempat pos penjagaan
Ketika lambung mulai mual karena goyangan kapal, guide kami menyampaikan kabar gembira bahwa kami akan segera sampai. Rasa senang saya mengalahkan pusing yang sedari tadi saya rasakan. Kami pun tiba di Teluk Kabui, jalan masuk menuju kepulauan Wayag. Bukit-bukit karang aneka bentuk atau yang biasa disebut karst mulai memenuhi pemandangan di kanan dan kiri kami. Uniknya, karst tersebut ditumbuhi rimbunnya pepohonan, seperti layaknya gunung yang tanahnya subur. Bahkan, pada karst yang berukuran kecilpun, pohon-pohon yang hidup diatasnya tampak menjulang tinggi. Warna lautan tampak  berubah kehijauan, layaknya danau tenang yang tak beriak. Awan-awan putih berkilau menggantung rendah di kejauhan. Kami bergerak semakin dalam memasuki hutan karst hijau. Sensasi keasrian alam mulai memanjakan pandangan mata. 

Teluk Kabui

Gugusan Karst
 Namun, keindahan yang saya temukan itu masih berupa pengantar saja. Terkadang kita perlu mengubah sudut pandang kita untuk mendapatkan arti keindahan yang sebenarnya. Semakin ke dalam, warna laut ternyata berubah cerah. Terlihat air aneka warna, biru muda, tosca, hijau muda, turquoise dan warna-warni lainnya. Kami pun berhenti di tepi bukit karang yang merupakan salah satu bukit yang biasa didaki untuk dapat melihat Wayag dari ketinggian.

Penampakan Wayag dari bawah

Jalur pendakian terbilang cukup curam, dengan kemiringan 70 derajat. Mendengarnya, saya cukup khawatir, tapi kami tetap naik perlahan. Guide kami memperingatkan untuk berjalan perlahan mengikutinya, menapak pada karang yang ia injak, mengingat tanah basah dan licin sisa hujan semalam. Setelah dua puluh menit mendaki perlahan, saya tertakjub pada pemandangan di pelupuk mata tepat saat saya menapakkan kaki di puncak Wayag. Pada puncak pertama ini, kita disuguhkan gradasi warna yang luar biasa indah. Dalam kondisi ini, saya benar-benar speechless. Antara terharu, bahagia, sekaligus merasa sangat kecil dihadapan Sang Kuasa.

Keindahan Wayag dari puncak 1
Belum puas kami berada di atas puncak, setengah jam kemudian guide mengajak kami untuk turun dan berpindah ke bukit karst yang lain untuk naik ke puncak yang kedua. Saat itu langit memang sudah mulai mendung, sehingga kami harus bergegas takut keburu hujan. Medan pendakian pada bukit yang kedua ini terbilang lebih ekstrem daripada yang pertama. Bukan lagi tanah, tetapi kita harus mendaki batu-batu karang yang tajam dan pipih dengan kemiringan 80 derajat. Beberapa teman memilih untuk tidak naik karena hanya guide kami tidak menyarankannya mendaki jika tidak menggunakan sepatu. Kami mulai naik, dengan kecepatan super lambat. Kami harus menahan beban tubuh dengan berpijak pada karang yang tajam, dan bergantung pada dahan pohon yang dapat diraih oleh tangan. Seumur hidup saya belum pernah naik gunung, jadi saya sangat ketakutan saat itu. Takut batu karang yang saya pijak tidak kuat menahan beban tubuh saya dan kemudian saya terjatuh. Ah, horor sekali pikiran jelek saya saat itu. Saat mendaki, seorang teman perjalanan sempat beberapa kali tergelincir, dan tergores batu karang dengan luka cukup dalam di kaki dan tangannya. Untunglah, ia masih semangat terus berjalan sampai puncak. Sepanjang perjalanan kami hanya terkagum pada beberapa penduduk lokal yang menemani kami, mereka mendaki dengan cepat dan tanpa alas kaki. Ya, tidak aneh memang, hampir setiap hari mereka menemani tamu mendaki ke puncak bukit.


Keindahan Wayag dari puncak 2

Senyum saya terkembang lebar, rasa haru sekaligus bahagia menyesap di sanubari. Sang Pencipta pasti tengah tersenyum saat melukis keindahan ini. Ia mengatur gugusan bukit karang berukuran besar berjejer rapi, berdiri melingkar menyerupai pegunungan hijau. Air yang dikelilinginya tampak tenang serupa danau tanpa ombak. Kemudian Ia menaruh secara acak gugusan karst yang berukuran lebih kecil di tengah-tengah danau penuh warna. Pasir putih memeluk bibir pantai di kaki bukit-bukit karst, memunculkan warna biru muda penuh gradasi tosca dan hijau muda pada lapisan-lapisan air. Indah, melenakan dan meluluhkan hati. Tak ingin mata ini mengerjap, berhenti memandang etalase surga yang menghampar. Sulit bagi saya menemukan satu kata yang tepat untuk mewakili kesempurnaan ini. Anda harus datang sendiri dan merasakan kenikmatannya. Kecintaan yang Tuhan lukiskan di atas negeri ini. (Ditulis untuk cerita perjalanan ReadersDigest.co.id)


Beautiful Wayag


Friday, March 23, 2012

Semangat shopping, baby girl!

Setelah pindahan rumah ke sini, mau bagi-bagi cerita lagi nih..

Alhamdulillah, sekarang kehamilan udah masuk 31 minggu.. menghitung minggu menuju kelahiran my baby girl (insya Allah)..
Nah, buat calon ibu yang menanti kelahiran bayinya, urusan nyiapin kebutuhan bayi nantinya pasti lumayan bikin ribet.. saya malah sampe kebawa mimpi segala.. (halah, lebay!)
Browsing sana-sini, kira-kira apa aja yang harus dibeli, n dimana tempat yang murah buat beli nya..
Banyak yang nyaranin di ITC Kuningan, karena disana ada bejibun toko bayi dengan barang yang lucu-lucu. Tapi setelah dipikir2 jarak, ongkos, dan effort yang harus dikeluarin untuk sampe sana, saya memutuskan untuk belanja di mangga dua aja deh yang dekat dari rumah..

Berhubung ini anak kedua, jadi masih ada sedikit peninggalan dari kakaknya..
ga perlu beli box bayi (karena emang dari anak pertama ga pernah pake boks), ga perlu beli stroller (masih ada bekas kakak)..
Setelah bongkar2, ternyata peninggalan kakak cuma sedikiiiit banget, kebanyakan udah dilungsurin ke sodara2.. yang artinya masih banyak yang harus dibeli untuk baby girl.. (bundanya langsung semangat belanja, ayah yang nyiapin duitnya yang jadi lemes, hahaha..)

Dua kali bolek-balik ke mangga dua, akhirnya selesai juga belanja untuk baby girl..
Ini catetan belanja n review toko bayinya, kali aja ada yang membutuhkan :

Toko Panen Mas, Pasar Pagi Mangga 2 Lantai SB No.007-009
1 lusin popok 'Kyoto'                                  Rp.45.000
1 lusin celana pop 'Puku-puku'                    Rp.35.000
3 set baju tangan pjg + celana panjang         Rp.65.000
3 pcs celana pjg tutup kaki 'BB Bear'          Rp.35.000
1/2 lusin baju tgn pdk + celana pop             Rp.70.000
Total :                                                        Rp.250.000
Cat : menurut gue disini barang2nya termasuk murah, walaupun merk nya ga terkenal, tapi bahannya lembut n enak.. mbak-mbak nya juga baik deh, diakhir belanja masih dikasih potongan 10ribu.. hehe.. lumayan..

Toko Lidos, ITC Mangga Dua Lantai 3 Blok C No.60
1/2 lusin bedong G2                                  Rp.66.000
3 pcs sarung tangan kaki 'Chery House'     Rp.20.000
2 pcs topi kerucut 'Nova'                          Rp.30.000
3 pcs slaber 'chery house'                          Rp.15.000
2 pcs kaos kaki 'miti baby'                         Rp.9.000
Total :                                                       Rp.140.000
Cat : Toko ini banyak direkomendasiin sama mommy2 di forum n blog, karena katanya termasuk murah di Mangga Dua.. Tapi menurutku sih, masih mahal di banding toko di pasar pagi, n gak bisa ditawar.. kecuali kalo emang mau yang bermerek, soalnya rata-rata yang dijual disitu merk bagus2 semua.. berhubung saya ga gila merek, jadi langsung balik lagi ke pasar pagi.. hehe

Toko ???, Pasar Pagi Mangga Dua Lantai SB
1/2 lusin bedong G2                                Rp.65.000
1 lusin gurita ikat 'pretty'                          Rp.40.000
Total :                                                     Rp.105.000
Cat : lupa deh nama tokonya apa, cuma karena lagi mau cari toko panen mas lagi ga ketemu, iseng-iseng nanya harga bedongan disini. ya, harganya sama-sama aja sih. tapi harga baju-bajunya menurut saya masih mahal, jadi lanjut cari toko lain.

Toko Bintang, Pasar Pagi Mangga Dua Lantai SB (depannya toko Panen Mas)
1 pcs perlak polos besar                        Rp.50.000
1 set topi sarung tgn kaki 'Chiyo'            Rp.20.000
1 pcs selimut topi 'Carter'                       Rp.65.000
1 lusin singlet 'Tris' ukuran S                   Rp.50.000
1/2 lusin baju tgn pendek 'Caney'           Rp.47.500
3 pcs baju kutung 'Caney'                      Rp.21.500
Total :                                                   Rp.254.000
Cat : Toko ini recommended banget deh, harganya murah, barangnya lengkap, cici n koko yg punya toko juga ramah. kemaren pas beli disini, ga sempet nawar lagi, berhubung udah sore, n menurut saya juga udah murah dibanding toko2 sebelumnya.. tapi gatau juga sih kalo dibanding sama yang di ITC Kuningan..

Jadi kalau ditotal-total, belanja heboh ini hanya membutuhkan Rp.749.000 saja.. Murah kaaaaaan?
Insya Allah cukup deh untuk baju sehari-hari my baby girl..

Oia, untuk mommy yang baru mau lahiran anak pertama, saran saya sih, (belajar dari pengalaman), belanja kebutuhan bayi nya seperlunya dulu aja, nanti pasti banyak banget hadiah dari saudara n temen-temen..
Contoh barang-barang yang biasa didapet dari hadiah :
1. Handuk (lahiran pertama dapet  lebih dari 3)
2. Tas Bayi (lahiran pertama dapet 3, masih bisa dipake untuk calon baby)
3. Selimut (lahiran pertama dapet 1, belum dipake, n masih dipake untuk calon baby)
4. Stelan baju pergi (lahiran pertama dapet banyak bgt, sampe ga perlu beli baju kakak sampe umur 6 bulan)
5. Sepatu (lahiran pertama dapet 3 pasang)
6. set tempat makan n minum bayi (lahiran pertama dapet 3 set, sampe dijadiin kado lagi buat orang lain :p)
7. alat kosmetik bayi (lahiran pertama dapet banyak bgt, jadi ga perlu beli-beli deh)
8. ada juga yang ngasih kasur bayi+bantal+guling, dll.

Jadi, untuk barang-barang semacam ini, lebih baik ga usah beli dulu.. bukannya ngarep dari hadiah sih, tapi daripada nanti malah mubazir.. :p
selain itu, bisa juga qta request hadiah ke sodara atau temen2, barang2 yang belum kita punya, jadi semuanya bisa jadi lebih bermanfaat.. :)

Selain baju sehari-hari untuk my baby girl, perlengkapan bayi lainnya yang saya beli (via online) adalah :
1. Breastpump Medela swing elektrik (second)           Rp.1.000.000 (beli lewat kaskus)
2. 1/2 lusin cloth diaper GG                                        Rp. 373.000
3. Kain menyusui                                                        Rp. 70.000
4. Medela Calma (botol susu)                                     Rp.195.000
5. Botol kaca ASIP 80 bh @1.800                            Rp. 244.000
6. Ice Gel Besar 5 buah @20.000                              Rp.100.000
7. Sepatu bayi                                                            Rp. 45.000
8. Jumper carter tangan pendek isi 5                           Rp. 65.000
9. Jumper Carter tangan panjang                                 Rp. 50.000
10. Romper animal 'dalmatian'                                    Rp. 58.000
11. Romper Polo 'Red'                                               Rp. 70.000

Yang penting sih sebenernya cuma nomer 1 sampe 6 aja..
Sebagai working mom yang mau bikin baby girl S3 Asi, semua perlengkapan harus disiapkan sejak dini.. (Gak mau kecolongan lagi kaya kakak dulu, cuma bisa sampe S1 Asi)
Kalo diliat harganya, medela swing elektrik emang mahal, tapi worth it untuk menjadi pejuang ASI.. dibanding harga susu formula yang edan-edanan mahalnya..
Oia, medela calma itu sejenis botol susu khusus yang dirancang seperti payudara ibu, walau dibalik pun air didalam ga akan netes, karena baru akan keluar kalo dihisap.. kenapa saya pakai ini? supaya baby girl ga bingung puting.. jadi dari awal gak akan saya kenalin ke dot biasa..
Trus apa perlu botol kaca sebanyak itu? jawabannya wajib, sodara2! Karena kebutuhan minum bayi itu beda-beda, semakin banyak kita nyimpen, akan semakin bagus.. jadi stok yang melimpah akan membuat kita mampu bekerja dengan tenang..

(Kalo yang nomer 7 sampe 11, itu cuma karena bunda nya mulai kecentilan aja, udah ga sabar pengen punya baby girl.. hihihi..)

Segitu dulu deh daftar belanjanya, yang penting yang utama udah terpenuhi..
Yang mau nambahin, silahkan :)
Selamat menanti kelahiran, calon bunda...


Thursday, August 11, 2011

Aqqil resmi jadi member TBS Daycare

Hari ini sungguh menguras emosi saya.. Semakin tersadar, Ya Allah, sungguh tak mudah menjadi seorang ibu jika tanpa pertolonganMu..

Begini ceritanya...
Hari senin yang lalu, pengasuhnya Aqqil bilang kalau dia mau kawin akhir bulan ini, n mau pulang kampung hari rabu. (Saya agak sebel juga, karena ngasih taunya ngedadak banget, emangnya nyari pengganti gampang?) Tapi ya udahlah, mungkin memang Allah berkehendak demikian. Akhirnya saya pun mulai sibuk memikirkan alternatif untuk pengasuhan aqqil.

Usul pertama, mencari pengganti sementara yang berasal dari tempat saya tinggal. Usul ini langsung ditolak mentah-mentah oleh suami saya. 

Usul kedua, aqqil diasuh bergantian oleh mertua saya dan suami saya. Karena jam kerja suami saya cukup fleksibel, shingga memungkinkan dia untuk membantu menjaga aqqil.

Usul ketiga, mencari toddler sekaligus tempat penitipan anak yang berkualitas baik dan bisa diandalkan.

Setelah menimbang baik buruknya, dari ketiga usul diatas, saya dan suami sepakat untuk mencari tempat penitipan anak untuk Aqqil. Ternyata, mencari TPA itu susah-susah gampang ya. Apalagi yang dekat dengan tempat kerja saya di bilangan Jakarta Pusat. 

Wednesday, May 11, 2011

Nggak Perlu Murus untuk Jadi Kurus

Perempuan mana sih yang nggak mau punya tubuh langsing, semampai, dengan lekuk tubuh yang indah?
Perempuan mana juga yang mau dikatain gendut, tembem, gede, bongsor, atau istilah-istilah tak berperikemanusiaan lainnya?

Itulah kenapa sampai saat ini berat badan selalu jadi problem utama perempuan. Kenapa semakin banyak perempuan yang berdiet, sehingga obat pelangsing selalu jadi produk paling laris manis di pasaran.

Jadi, siapa perempuan yang ngotot pengen kurus itu?
Salah satunya adalah saya sendiri. Saya nggak malu mengakuinya.
Bagaimanapun, bisa tampil prima dan tidak memiliki image 'gendut' di mata orang, terutama suami adalah sebuah kebanggaan buat saya.

Waktu remaja, saya adalah orang yang tidak mempedulikan bentuk tubuh saya. Alhasil, terciptalah bentuk tubuh yang lebih besar dari seharusnya. Melar seperti baju yang direndam minyak tanah. (Haha, nggak segitunya sih..)

Sekarang, tentu saja saya harus lebih peduli. Pertama, demi kesehatan saya. Bagaimanapun, punya tubuh gemuk itu rentan dengan penyakit. Kedua, tentu saja penampilan. Menurut riwayat, salah satu ciri istri sholehah adalah mampu menjadi penyejuk mata dan hati suami. Lha, kalo banyak gelambir di kanan kiri, gimana mata suami mau sejuk?

Kini saya sangat bersyukur. Diantara sekian banyak orang yang menjadi lebih gemuk setelah melahirkan. Saya malah sebaliknya. Menjadi lebih kurus, bahkan dari sebelum saya hamil. :)
Bagaimana caranya?

Berbagai upaya bisa kita tempuh untuk mewujudkannya, salah satunya adalah diet. Tidak mudah memang, tapi dimana ada usaha disitu pasti ada jalan. Salah satu cara yang saya tempuh adalah dengan mengubah pola makan saya, dan melakukan substitusi makanan.

Menu sarapan saya yang biasanya diisi oleh satu set nasi putih, lauk pauk, sayur dan kerupuk, kini saya ganti dengan semangkuk oatmeal (Quacker oat) yang dilarutkan dalam freshmilk cokelat. Sementara untuk makan siang, saya masih bisa menyantap satu set nasi putih, dengan lauk pauk dan sayuran. Namun, dengan syarat mengurangi porsi nasi putih menjadi setengahnya. 

Bagaimana dengan makan malam? 
Nah, idealnya kita sudah harus berhenti mengunyah pada pukul 18.00. Untuk pengganti makan malam, boleh dicoba dengan buah-buahan atau susu. Tapi, sejujurnya saya juga masih sering melanggar larangan makan malam ini. Seringkali saya tak kuat menahan godaan nasi goreng, ketoprak atau sate ayam yang disantap oleh suami saya. 

Cara diet yang saya jalankan memang tidak serta merta menunjukkan penurunan berat badan yang signifikan. Tapi, selama beberapa bulan ini, saya sudah bisa menghilangkan 4 kg.

Mau yang lebih cepat? Teman saya Eris Praghina, tau jawabannya. Tapi, tentu saja, hasil yang cepat membutuhkan usaha yang ekstra keras juga.

Sebagai gambaran, teman saya itu selama tiga hari hanya makan buah, yang dinamakan detoks. Hari-hari berikutnya, ia hanya makan pisang atau dua lembar roti di pagi hari, makan siang dengan nasi putih tak lebih dari tiga sendok makan dan lauk, tanpa makan malam. Diantaranya ia hanya diperbolehkan ngemil buah-buahan. Itu pun hanya pada jam-jam tertentu. Selain itu, diet tersebut harus dilakukan di bawah bimbingan shinse, dengan anjuran konsultasi dan terapi akupuntur sekali seminggu. 

Mmm, kalau saya masih belum sanggup deh kayaknya. Tapi, teman saya itu sekarang sudah jauh lebih langsing. Ia telah berhasil turun 8 kilo dalam waktu kurang dari 2 bulan. 

Mau pilih cara cepat atau cara santai, itu semua terserah kita. Yang paling penting adalah konsistensi, dan jangan lupa imbangi dengan olahraga. Saran dokter ahli, sebaiknya hindari diet dengan memakai obat pelangsing. Selain akibatnya bisa fatal untuk kesehatan, obat itu juga dapat menyebabkan ketergantungan. 

Ingat, diet yang benar adalah dengan menjaga pola makan. Jadi, selamat diet sehat ya!